Artikel Pendidikan dan Budaya
Memasukan Sejarah Lokal Dalam Kurikulum di Sekolah
Oleh MustafidJum'at, 23 April 2010 06:33 WIB | Dibaca 4.352 kali
Memasukan Sejarah Lokal Dalam Kurikulum di Sekolah

Idealnya, pembelajaran sejarah selalu berangkat dari masalah dan fenomena lokal, agar anak didik mempunyai perasaan memiliki dan membutuhkan terhadap pelajaran yang disampaikan. Materi tentang sejarah Kerajaan Galuh misalnya akan mempunyai daya tarik tersendiri bagi anak didik di Ciamis, Sejarah Sukapura untuk anak didik di Tasikmalaya pun seperti itu, tentunya sangat berbeda bila dibandingkan dengan mempelajari sejarah di daerah lainnya. Bukan berarti sejarah di tempat lain itu tidak perlu dipelajari, akan tetapi sejarah lokal menjadi suatu dasar bagi siswa untuk mempelajari sejarah tentang daerah lainnya. Jadi memasukan sejarah lokal sebagai suatu kurikulum di sekolah memegang peranan yang sangat urgen untuk membangkitkan kecintaan pelajar kepada daerahnya.

Taufik Abdullah (1996) mendefinisikan sejarah lokal sebagai “sejarah dari suatu tempat”, suatu locality yang batasnya ditentukan oleh perjanjian penulis sejarah. Penulis bebas menentukan batasan penulisannya, apakah dengan wilayah kajian geografis dan etnis. Sejarah lokal bersifat elastis, bisa bicara tentang suatu desa, kecamatan, kabupaten, tempat tinggal suatu etnis, dan suku bangsa yang ada dalam suatu daerah atau beberapa daerah. Selama ini sejarah yang diajarkan di sekolah kurang bermakna bagi siswa. Ironis sekali, siswa diajak untuk mempelajari asal-usul daerah lain, namun tidak memahami asal usul daerahnya sendiri.

Guru sebagai ujung tombak dalam pembelajaran sejarah juga tidak memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengembangkan materi dan metode pembelajaran, karena guru kurang memiliki pemahaman teori dan metodologi sejarah. Disinilah persoalan pembelajaran sejarah menjadi semakin rumit. Siswa sebagai salah satu komponen dalam sistem pembelajaran juga merasa bosan karena belajar sejarah hanya menghafalkan nama-nama tokoh, angka-angka tahun, dan benda-benda peninggalan yang kusam. Oleh karena itu, perlu sekali merubah paradigma dalam pembelajaran sejarah yang cukup memberikan stimulus siswa untuk mempelajari sejarah, diantaranya siswa diajak untuk mampu memparalelkan sejarah dunia dengan sejarah nasional dan sejarah lokal dengan metode yang inovatif.

Pembelajaran sejarah lokal di daerah tertentu pada gilirannya akan mampu mengantarkan siswa untuk mencintai daerahnya. Kecintaan siswa pada daerahnya akan mewujudkan ketahanan daerah. Ketahanan daerah adalah kemampuan suatu daerah yang ditunjukkan oleh kemampuan warganya untuk menata diri sesuai dengan konsep yang diyakini kebenarannya dengan jiwa yang tangguh, semangat yang tinggi, serta dengan cara memanfaatkan alam secara bijaksana. Pada saat ini, semangat yang terkandung dalam diberlakukannya Otonomi Daerah sudah semestinya mengacu kepada kemandirian dimana masyarakatnya secara sadar membangun dirinya menjadi manusia yang amanah dan mampu memanfaatkan sumber daya baik manusia dan alam untuk kemaslahatan masyarakat.Dalam konteks tersebut di atas, pembelajaran sejarah khususnya sejarah lokal menjadi relevan.

Anak bangsa di negeri ini sudah sewajarnya diperkenalkan dengan lingkungan yang paling dekat yaitu desanya, kemudian kecamatan, dan kabupaten, baru tingkat nasional dan internasional. Apabila mereka mencintai sejarah di daerahnya, maka secara otomatis anak didik akan mengetahui tentang kearifan lokal tentang kebudayaan di daerahnya. Sejarah lokal mempunyai arti sangat penting bagi anak didik kita. Dengan mempelajari sejarah lokal anak didik kita akan memahami perjuangan nenek moyangnya dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Penulis sendiri yang berasal dari Ciamis baru mengetahui tentang adanya kearifan lokal yang masih tetap terjaga hingga saat ini di Kampung Kuta Ciamis, juga makna dari adanya upacara adat nyangku di Panjalu. Sudah saatnya pemerintah memasukkan sejarah lokal sebagai kurikulum di daerahnya masing-masing, agar nantinya anak didik menyadari dan menghargai sejarah dan kearifan kebudayaan lokal yang ada di daerahnya.

Penulis, aktif dalam Organisasi mahasiswa daerah asal Ciamis di Jakarta (Keluarga Besar Mahasiswa Galuh Jaya) kini tengah menempuh pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Manajemen Pendidikan.


Baca Juga Artikel Pendidikan dan Budaya Lainnya:

Print PDFPDF ArsipArsip RSSRSS


Anda ingin mengirimkan Artikel ataupun menjadi Citizen Journalism? anda bisa mengirimkan Artikel kepada kami melalui fasilitas Kontribusi Berita


Adi Sumaryadi
1
Adi Sumaryadi
Jum'at, 23 April 2010 06:49 WIB
Satuju Pisan kang....

Anda dapat memberikan komentar tentang Memasukan Sejarah Lokal Dalam Kurikulum di Sekolah dengan menggunakan form dibawah ini .





 Notifikasi via email jika ada yang komentar



comments powered by Disqus
Akomodasi,Pangandaran
Pantai Jaya
Rp. 350.000
Pantai Jaya
Terletak di Jantung kota Pangandaran Hotel Pantai Jaya menawarkan tarif kamar yang relatif murah dengan service yang baik,memiliki 20
Nusawiru Guest House 2
Rp. 1.500.000
Nusawiru Guest House 2
Berlokasi tepat di Pusat Wisata Pantai Pangandaran, sehingga sangat cocok bagi anda para Backpacker atau Traveler untuk berkumpul bersama keluarga,
Aneka,Pangandaran
7 Aktifitas Menantang Saat Berlibur di Pangandaran

7 Aktifitas Menantang Saat Berlibur di Pangandaran
Terkadang wisatawan beranggapan bahwa liburan di Pangandaran itu hanyalah wisata pantai, dan memang pantai yang landai dan hamparan pasir lembut dan luas selalu menjadi daya tarik tersendiri, terlebih fasilitas bermain juga s


myPangandaran di Social Media close button abatasa minimize button abatasa maximize button abatasa
Join us on Facebook
Follow us on Twitter