Artikel Sudut Pandang Warga
Warung Pinggir Pantai, Antara Keindahan dan Kebutuhan
Oleh Adi SumaryadiKamis, 17 Februari 2011 05:23 WIB | Dibaca 1.792 kali

Pada awal tahun 2000-an pemerintah membuat sebuah program penataan warung pinggir pantai ini dengan membuat Pasarwisata Pangandaran, namun hanya berjalan beberapa waktu saja, warung-warung pinggir pantaipun bermunculan kembali, alasannya karena pasar wisata tidak seramai pantai bahkan terkesan sepi.
Jumlah warung semakin hari semakin meningkat, hal ini ditenggarai akibat lemahnya sanksi yang diberikan oleh pemerintah, padahal Peraturan pemerintah (PP) sudah terlihat jelas disepanjang pantai Pangandaran yang menginformasikan larangan untuk mendirikan bangunan baik permanen ataupun tidak sepanjang garis harim pantai Pangandaran. Tibumpun sepertinya hanya seperti kucing-kucingan dengan para pedagang.
Keindahan pantai Pangandaran sepertinya terkorbankan dengan semrawutnya pedagang pinggir pantai apalagi ditambah dengan ratusan perahu yang terkesan tidak tertata akibat molornya pembangunan pelabuhan cikidang di desa Babakan.
Bagaimana jika Pangandaran bersih dari Pedagang Pinggir Pantai? saya pikir inipun akan muncul masalah baru dimana wisatakan akan kesulitan untuk mendapatkan tempat makan, minum dan mencari beberapa kebutuhan saat liburan. Jika bersih sama sekali dipastikan wisatawanpun akan kelimpungan.
Jadi Bagaimana Solusinya? saya pikir solusi terbaik adalah PENATAAN, untuk mengambil jalan tengah antara kebutuhan dan keindahan alangkah baiknya pemerintah membuat sebuah rencana besar dalam penataan pangandaran secara keseluruhan. Hal yang sangat mungkin adalah dengan membangun bangunan-bangunan yang unik dan indah yang nantinya bisa digunakanan dan disewa oleh para pedagang, bangunan-bangunan ini bisa dibuat semacam bentuk rumah minang misalkan, atau bangunan unik lainnya yang tidak menghilangkan keindahan pantai Pangandaran. Bangunan-bangunan ini harus dilengkapi dengan drainase dan sistem pembuangan sampah yang bagus sehingga tetap ramah lingkungan. Bangunan ini dibuat berkelompok yang berjumlah beberapa warung/etalase dalam setiap kelompoknya, dan jarak antar kelompok bisa diatur jangan terlalu dekat sehingga tidak menghalangi pemandangan ke arah pantai dari Jalan. Pengawasan yang ketat dari pemerintah harus dilakukan, harus dipastikan tidak ada kepemilikan ganda dan diprioritaskan orang Pangandaran.
Hal yang sama bisa dilakukan di beberapa object wisata lain seperti di karang nini dan karapyak untuk orang Kalipucang, Pantai Batuhiu dan Bojongsalawe untuk Orang Parigi, Begitu pula Batu karas untuk orang Cijulang, jadi semuanya bisa terakomodasi.
Solusi ini menurut saya bisa menjadi solusi, satu sisi tidak menghilangkan keindahan apalagi kalau arsitektur bangunan warung itu unik seperti bangunan-bangunan dibali yang justru akan menjadi sebuah icon baru Pangandaran, dan satu sisi lagi masyarakat khususnya warga Pangandaran bisa menikmati industri wisata, begitu pula dengan wisatawan tidak kelimpungan mencari akomodasi saat berlibur.
Baca Juga Artikel Sudut Pandang Warga Lainnya:
Anda ingin mengirimkan Artikel ataupun menjadi Citizen Journalism? anda bisa mengirimkan Artikel kepada kami melalui fasilitas Kontribusi Berita
1
agungKamis, 17 Februari 2011 10:41 WIB
Menurut saya Pemerintah sudah cukup baik dlm menanggapi persoalan warung-warung di pinggir pantai. Pemerintah telah membangun lokasi untuk berjualan bagi para warga yang ingin membuka warung. Tapi sayangnya, Pemerintah kurang memperhatikan aspek akses menuju ke lokasi tersebut. Menurut para pedagang dan wisatawan lokasi tersebut agak jauh dari pantai. Kalau kita perhatikan disepanjang jalan pantai barat dan timur dibangun berbagai hotel yang aksesnya langsung ke pantai. Seandainya Pemerintah berinisiatif membangun tempat berjualan di jalan utama pantai barat dan timur, saya rasa para pedagang tidak akan membangun warung di pinggir pantai karena tempat mereka berjualan pun sudah menghadap ke pantai dan mudah diakses.
2
G10 DKamis, 17 Februari 2011 12:47 WIB
Karena udah terlanjur ada pasar wisata yang letaknya jauh dari pantai. menurut saya bisa ajah di optimalkan untuk para wisatawan untuk belanja di pasar wisata.
Bagaimana caranya?
Ya diatur jalur arus lalulintasnya. Sebagai contoh:
setiap wisatawan yang baru datang dipersilakan langsung ke kawasan tempat wisata pingir pantai, atao hotel. Baik mobil pribadi maupun Bus. Tapi setelah aka keluar tempat wisata (pulang) semua kendaraan wajib melalui Pasar wisata. Itu mungkin akan menjadikan solusi untuk sementara waktu sebelum ada pembenahan lebih lanjut yang lebih bagus. Kan semua wisatawan tidak akan belanja kalo baru datang ke tempat wisata, saya sendiri kalo mau beli oleh-oleh ya kalo mau pulang.
3
Adi SumaryadiKamis, 17 Februari 2011 14:53 WIB
Sebenernya pangkalnya goodwill dari pemerintah initeh...
4
catherine mini tiga Jum'at, 18 Februari 2011 16:23 WIB
amin amin amin...articlenya menarik dan saya setujuh sekali semuanya...ooo indahnya kalau ada yang dengar di atas dan dilaksanakan semuanya!!!! warung warung pantai di atas lucu lucu....
Anda dapat memberikan komentar tentang Warung Pinggir Pantai, Antara Keindahan dan Kebutuhan dengan menggunakan form dibawah ini .
Kategori Artikel
- Wisata dan Kuliner
- Teknologi Informasi
- Pendidikan dan Budaya
- Politik dan Pemerintahan
- Kajian Islam
- Cerita Bahasa Sunda
- Olahraga dan Kesehatan
- Pemekaran Pangandaran
- Inspirasi dan Opini
- Sudut Pandang Warga
- Campur-Campur
- Cerita Warga Pangandaran
- Sosok dan Profil
- Pangandaran on English
- Ekonomi dan Wirausaha
Serunya Menikmati Pantai Pangandaran Dari Atas Kuda
Ada banyak cara untuk menikmati indahnya pantai Pangandaran salah satunya menunggang kuda.Menunggang kuda di pantai Pangandaran apalagi sambil menyaksikan Matahari terbenam, hmmm..susana yang sangat indah dan takan terlupakan
Ada banyak cara untuk menikmati indahnya pantai Pangandaran salah satunya menunggang kuda.Menunggang kuda di pantai Pangandaran apalagi sambil menyaksikan Matahari terbenam, hmmm..susana yang sangat indah dan takan terlupakan
ATM dan Bank
Bank Negara Indonesia (BNI)
Layanan perbankan yang dilakukan melalui mesin ATM (Automatic Teller Machine) yang dapat melayani selama 24 jam, guna melakukan transaksi perbankan meliputi penarikan tunai
Bank Negara Indonesia (BNI)
Layanan perbankan yang dilakukan melalui mesin ATM (Automatic Teller Machine) yang dapat melayani selama 24 jam, guna melakukan transaksi perbankan meliputi penarikan tunai




Komentar via Facebook


